MONUMEN DAN PATUNG DI JAKARTA (6)

  1. MONUMEN AIR MANCUR

monumen_airmancurthamrin-1

monumen_airmancurthamrin-2

Monumen Air Mancur Bunderan/Bundaran HI (Hotel Indonesia) karya He Ngantung/Soekarno (1963), letaknya tepat di jantung Ibukota yang mempertemukan Jalan MH. Thamrin – Jl. Sutan Syahrir – Jl. Imam Bonjol dan Jl. Kebon Kacang, dimana di tengah-tengah monumen ini berdiri tegak Patung Selamat Datang (lihat disini). Bertepatan dengan hari jadi Kota DKI Jakarta yang ke-475 yang jatuh pada tanggal 22 Juni 2002, Monumen Bunderan HI direstorasi oleh PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama dengan penambahan air mancur baru, desain kolam baru, dan pencahayaan. Setelah era reformasi, Bundaran HI menjadi tempat populer untuk melakukan aksi demonstrasi. Setiap hari minggu pagi, saat dilaksanakan Jakarta Car free day, bundaran ini dipenuhi oleh orang yang berolahraga, bersepeda, maupun pedagang kaki lima.  

  1. MONUMEN ANCOL

monumen_Ancol-1 monumen_Ancol-2

Monumen ini terletak di tengah danau Taman Ancol, Jakarta Utara dalam wilayah Taman Impian Jaya Ancol. Berbentuk 3 buah pilar yang menjulang tinggi mencuat dari permukaan air. Dalam pilar-pilar itu terdapat pesan-pesan penting yang disampaikan kepada generasi penerus bangsa, pada salah satu pilar monumennya tertulis dua bait puisi: “Padamu yang bakal lahir dan tumbuh di pangkuan Pertiwi ini berkumandang doa dan harapan suci semoga cahaya pikir dan daya raga sepanjang usiamu ikhlas berdiri menjaga melindungi taman impian ini dimana insan bertemu muka bertatap jiwa melepas dahaga sukma dan membuang rindu pada sesama pada alam wajah semesta. Padamu yang akan terlahir dalam zaman sambunglah darah kehidupan kami kebun penyemai keindahan perabuk jiwa kelembutan penyegar jiwa pengabdian yang tumbuh di sini di pantai emas ini di muara sejarah Jakarta Jantung Perkasa Peradaban Indonesia. Melalui Monumen ini kami persembahkan ungkapan hati-nurani kami kepada rakyat Jakarta dan Bangsa Indonesia. TTD. Ali Sadikin. Jakarta 2 Juli 1977. Pembuat Monumen Ancol adalah Ari Setiarso.  

  1. PATUNG HERMES/DEWA YUNANI

patung_HERMES patung_HERMES-2

Di tengah padatnya lalu lintas di kawasan Harmoni Jakarta Pusat, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni patung kecil berwujud manusia dengan tangan kanannya menunjuk ke arah langit dan berwarna perunggu gelap yang bertengger di jembatan Harmoni. Patung Dewa Hermes, namanya. Dewa Hermes (dalam mitologi Yunani) atau Dewa Merkurius bagi bangsa Romawi adalah putra dari Dewa Zeus dan Peri Maya. Hermes berperan sebagai pesuruh dan pembawa berita. Hermes juga dikenal sebagai dewa yang cerdas dan juga cepat gerak-geriknya, dewa pelindung para pedagang dan penggembala. Patung Hermes di Batavia dibuat berdasarkan patung Hermes karya Giambolog atau Giovanni Bologna (1529-13 Agustus 1608). Ia adalah pematung terkenal di zaman Renaissance. Pada awalnya merupakan milik Karl Wilhelm Stolz, seorang pedagang Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda. Stolz membelinya di Hamburg sekitar tahun 1920. Stolz yang memiliki toko di Jl. Veteran, Batavia, meletakkan patung itu di halaman rumahnya. Kemudian pada tahun 1930, Stolz menjual tokonya dan menyumbangkan patung Hermes tersebut pada pemerintah Batavia sebagai tanda terimakasih atas kesempatan yang didapatkannya untuk berdagang di Hindia-Belanda. Patung perunggu dewa pelindung para pedagang seberat 70 kg itu akhirnya dipasang di jembatan Harmoni yang sudah dibangun sejak 1905. Lokasi tersebut dipilih karena letak jembatan Harmoni berada di mulut Jl. Hayam Wuruk yang saat itu sudah menjadi daerah perdagangan yang ramai. Pada tahun 1999, patung ini nyaris jatuh ke kali karena penyangganya tertabrak mobil hingga bagian kakinya mengalami kerusakan. Akhirnya patung seberat 70 kg yang merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilindungi Pemprov DKI Jakarta ini diamankan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Kemudian pada tahun 2000 patung ini dipindahkan ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta dengan alas an keamanan. Kini, patung Hermes asli yang merupakan saksi bisu perkembangan Jakarta dari masa ke masa ini dapat dilihat di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), atau seringkali disebut Gedung Fatahillah, kawasan Kota Tua (lihat disini). Sedangkan replikanya dibuat oleh pematung Arsono dari Yogyakarta dan ditempatkan di jembatan Harmoni tempat asal dari patung yang aslinya, sampai sekarang. Patung replika putra Zeus itu beratnya mencapai 100 kg.

  1. TUGU 66

Monumen-Angkatan-66 Monumen-Angkatan-66-2

Ada sebuah tugu yang berdiri di tepian Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan Jakarta yang bila kita perhatikan dengan seksama akan tercipta di benak kita bahwa itu adalah sebuah bentuk dari double angka 6 (enam). Tugu ini dikenal dengan Monumen / Tugu 66, hasil karya tangan pematung berkelahiran tahun 1953 di Sibolga Sumatera Utara, Dolorosa Sinaga. Tugu ini didirikan untuk mengenang mahasiswa, pelajar, dan pemuda Angkatan 1966 yang menuntut Pemerintah waktu itu untuk membubarkan PKI, menurunkan harga, dan membubarkan kabinet 100 menteri. Tuntutan itu dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura).

  1. PATUNG ELEMEN ESTETIK

Patung-Elemen-Estetik-1 Patung-Elemen-Estetik-2

Patung kontemporer elemen estetik karya But Mochtar (1980), perupa patung lulusan ITB ini terletak di tepi kolam plaza taman Gedung MPR/DPR-RI. Patung dengan konstruksi rangka besi berlapis perunggu ini merupakan perlambang penjelmaan manusia Indonesia yang hakiki, kehendak maupun harapan-harapannya yang disampaikan lewat lembaga perwakilan rakyat. Patung ini juga merupakan perlambang dimensi waktu yang telah ditempuh rakyat Indonesia dari perjalanan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s